
MEMBANGUN PEMAHAMAN MENDALAM KONSEP IKLIM DAN CUACA BAGI MURID TUNAGRAHITA DI SLB NEGERI SALATIGA
Oleh :
Reni Setiawati, S. Pd., M. Pd
PENDAHULUAN
Transformasi pendidikan di Indonesia berkembang sesuai dengan kebutuhan serta layanan kepada murid, karakteristik murid yang beragam menciptakan kreatifitas guru dalam mengelola kelasnya sehingga menghasilkan kelas yang aman, nyaman dalam belajar dan menciptakan suasana yang menggembirakan. Bentuk kreatifitas guru di dalam mengelola pembelajarannya berawal dari keunikan yang dimiliki oleh setiap murid, kebutuhan belajar yang berbeda-beda dari murid-muridnya di kelas. Pendidikan tidak hanya transfer pengetahuan namun juga membangun kesadaran diri dari setiap murid sehingga akan membentuk karakter pembelajar bagi murid itu sendiri karena sesungguhnya murid dan guru merupakan pembelajar sepanjang hayat. Sebagai pembelajar sepanjang hayat maka murid dan guru merupakan individu yang memiliki pola pikir bertumbuh sehingga siap menghadapi segala perubahan dalam dunia pendidikan.
Kurikulum yang digunakan saat ini yaitu kurikulum merdeka dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Pembelajaran Mendalam menekankan proses berpikir tingkat tinggi, pengolahan makna, dan pembelajaran yang kontekstual sehingga murid dapat mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata serta menumbuhkan kesadaran diri sebagai pembelajar sepanjang hayat (Mustaghfirin & Zaman, 2025). Secara konseptual, pembelajaran mendalam memberikan kontribusi besar dalam membentuk pembelajaran yang kaya makna, mendorong keterlibatan aktif, dan meningkatkan kenikmatan siswa terhadap proses pembelajaran (Kusumawati dan Ningsih, 2025). Pembelajaran mendalam tidak terbatas pada penguasaan materi pelajaran; tetapi juga mendorong peningkatan kemampuan kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif, yang membentuk dasar kompetensi yang dibutuhkan di abad ke-21 (Nurul et al, 2025). Deep learning memiliki peran penting dalam mengkaitkan antara teknologi asistif dan pembelajaran yang adaptif untuk mendukung peserta didik penyandang disabilitas dengan berbagai karakteristik dan kebutuhan yang berbeda (Fri, C., & Elouahbi, R. 2021).
Untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan responsif bagi murid berkebutuhan khusus maka guru merancang strategi pembelajaran melalui teknologi asistif dan pembelajaran adaptif sehingga murid memiliki peran yang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran adaptif memberikan akomodasi serta inovasi pembelajaran dengan menyesuaikan materi, metode, media dan evaluasi yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik (Kumar, L. A. et al. 2022). Pembelajaran yang adaptif ini mendukung guru dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan (Ezzaim, A. et al. 2023).
Pembelajaran yang menyenangkan dapat dikembangkan dengan strategi yang dibuat oleh guru, menciptakan media pembelajaran yang menarik merupakan sebuah tantangan bagi guru dalam mengelola kelasnya. Penggunaan media pembelajaran yang tepat akan menarik perhatian dan minat belajar murid terutama untuk anak berkebutuhan khusus dengan hambatan intelektual yang memiliki karakter kapasitas belajarnya terbatas sehingga mereka mengalami kesulitan mempelajari hal-hal abstrak. Peran media pembelajaran yaitu salah satunya memiliki fungsi semantik. Fungsi media pembelajaran menurut Asyhar (2011) terdiri dari fungsi semantik, manipulatif, fiksatif, distributif, sosiokultural, dan psikologis. Menurut Suryani dkk (2018) Media pembelajaran memiliki fungsi semantik artinya media pembelajaran berfungsi mengkonkretkan ide dan memberikan kejelasan agar pengetahuan dan pengalaman belajar dapat lebih jelas dan mudah dipahami. Komik merupakan salah satu media pembelajaran yang dipilih oleh guru karena berisi gambar bercerita yang menjelaskan konsep abstrak menajdi konkret bagi murid dengan hambatan intelektul. Pemilihan komik sebagi media pembelajaran karena murid berkebutuhan khusus dengan hambatan intelektual atau disebut dengan tunagrahita menyukai visual yang menarik dan membantu guru mengubah materi yang abstrak menjadi konkret sehingga murid mudah memahami konsep tersebut.
Tunagrahita adalah suatu kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam komunikasi sosial (Atmaja, 2018). Anak tunagrahita ringan yang memiliki IQ antara 68 – 52, mereka masih bisa belajar membaca, menulis, dan melakukan perhitungan sederhana. Anak tunagrahita memiliki kapasitas belajar yang terbatas sehingga membutuhkan media pembelajaran yang menarik perhatiannya serta dapat menjelaskan konsep abstrak menjadi konkret.
PEMBAHASAN
Situasi
Capaian pembelajaran untuk mata pelajaran Ilmu pengetahuan Sosial (IPS) fase D yaitu murid mengidentifikasi perubahan iklim dengan salah satu tujuan pembelajaran adalah murid mampu membedakan antara cuaca dan iklim. Bagi murid berkebutuhan khusus seperti anak dengan hambatan intelektual (tunagrahita), konsep cuaca dan iklim merupakan sesuatu yang sulit dipahami. Ciri khas anak tunagrahita adalah kemampuan mereka untuk memahami hal-hal yang abstrak sangat terbatas. Anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan hambatan intelektual (tunagrahita) adalah individu yang memiliki keterbatasan intelektual yang memengaruhi kemampuan mereka dalam belajar serta berinteraksi dengan orang lain (Asalia, 2016).
Keadaan tersebut menjadi dasar praktik baik karena didukung dengan fakta bahwa murid kelas VII tunagrahita memiliki pemahaman yang rendah tentang perbedaan antara cuaca dan iklim. Dalam pembelajaran IPS, meski mereka mampu mengenali kondisi cuaca panas dan hujan dalam kehidupan sehari-hari, mereka belum bisa mengidentifikasinya sebagai cuaca. Pemahaman mengenai iklim yang dipandang sebagai pola cuaca jangka panjang yang berpengaruh pada musim di Indonesia pun terasa abstrak dan sulit dicerna.
Hasil asesmen awal dalam pembelajaran menunjukkan bahwa murid kelas VII tunagrahita cenderung memiliki gaya belajar visual dan kinestetik; mereka belajar lebih baik jika terhubung dengan pengalaman langsung dan kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi dalam pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik seperti gambar, yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga dapat menyampaikan narasi yang jelas dan sederhana untuk menjelaskan perbedaan dasar antara cuaca dan iklim.
Tantangan
Beberapa tantangan yang muncul dalam upaya mengimplementasikan praktik baik untuk mencapai tujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai konsep iklim dan cuaca melalui komik antara lain(1) mengubah konsep yang abstrak menjadi sesuatu yang lebih nyata yaitu mencari metode untuk menjelaskan perbedaan mendasar antara cuaca yang bersifat sementara dan iklim yang memiliki pola jangka Panjang dengan cara yang sederhana serta mudah dipahami oleh murid dengan hambatan intelektual (tunagrahita); (2) menciptakan pembelajaran yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan mengenai cuaca dan iklim dengan pengalaman nyata yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari sehingga proses belajar tidak hanya sebatas menghafal tetapi juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari; (3) mendorong keterlibatan aktif murid dengan merancang suatu proses belajar yang bersifat terbuka, dimana setiap murid diberikan kesempatan untuk mengungkapkan diri mereka dan menunjukkan pemahaman sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.
Aksi
Untuk menghadapi berbagai tantangan, saya menyusun sebuah rencana tindakan yang fokus pada pengalama murid, terdiri dari dua langkah yaitu persiapan media dan implementasi di dalam kelas.
Langkah pertama adalah menciptakan alat bantu visual utama yaitu saya membuat sebuah komik cerita yang ditujukan khusus untuk murid-murid saya. Prinsip dasarnya sederhana yaitu menggunakan dialog, ilustrasi yang mudah dimengerti dan alur logis dari permasalahan menuju sebuah penyelesaian. Komik ini bertujuan agar konsep yang sulit atau abstrak dapat dipahami oleh mereka dengan lebih jelas.
Langkah kedua mencakup pelaksanaan pembelajaarn interaktif dalam tiga tahap yaitu Tahap memahami : di bagian ini, saya bertanggung jawab untuk menghidupkan komik tersebut dengan cara menekankan kata-kata kunci seperti “singkat” sambal menunjukkan gambar kalender, saya membantu mereka menghubungkan mengaitkan kata abstrak dengan simbol visual yang kenali dan pahami. Tahap mengapliaksikan : setelah memahami konsep dasar, kami langsung mempraktikkannya. Saya menyesuaikan aktivitas setiap anak. 2 murid bermain menghubungkan gambar berdasar kategori yaitu mengelompokkan pakaian sesuai cuaca yang terdapat pada lembar kerja murid yang merupakan latihan penerapan cuaca secara nyata. 1 murid lainnya, saya berikan kesempatan untuk berkreasi dengan mewarnai aktivitas favoritnya sesuai keadaan cuaca dalam gambar agar pembelajaran terasa lebih pribadi dan bermakna. Tahap Refleksi dan Penguatan : sesi ini saya sajikan dalam “Galeri Mini”. Dengan memamerkan karya mereka dan mengajukan pertanyaan sederhana tentang gambar tersebut, saya tidak hanya mengulangi materi tetapi juga secara aktif meningkatkan rasa percaya diri mereka. Momen seperti ini sangat penting agar mereka merasa dihargai dan mampu.
Refleksi (Hasil)
Hasil yang diperoleh adalah ‘Dari Kebingungan Menjadi Pemahaman dan Kepercayaan diri’. Setelah menjalani serangkaian kegiatan dlaam pembelajaran ini, saya melihat transformasi yang sangat nyata bagi murid-murid. Perubahan ini tidak hanya tampak pada pemahaman mereka terhadap materi, tetapi juga terlihat dari perilaku serta keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Berikut adalah hasil penting yang dapat dicapai antara lain (1) konsep yang abstrak menjadi lebih konkret dan bisa dipahami, hasil yang paling mendasar adalah murid-murid sekarang dapat membedakan antara cuaca dan iklim dengan cara mereka sendiri. Dahulu konsep ini terasa asing, sekarang ketika saya menanyakan, “apa yang berbeda setiap hari?” 2 murid dapat menajwab dengan penuh keyakinan yaitu cuaca. Ini terjadi karena penggunaan komik dan penekanan pada kata-kata visual seperti kalender, berhasil membangun pemahaman “harian” di pikiran mereka. Bukti lain terlihat dari aktivitas mencocokkan kartu. 2 murid mampu secara konsisten memilih gambar paying atau jaket saat dihadapkan dengan gambar cuaca hujan, menunjukkan adanya pemahaman tentang hubungan sebab-akibat; (2) pengetahuan dikonversikan menjadi keterampilan praktis yang dapat diterapkan sehari-hari. pembelajaran ini lebih dari sekedar teori di dalam kelas. Hasilnya, murid mulai menunjukkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan tentang cuaca dalam situasi nyata. Dalam aktivitas “memilih pakaian yang tepat”, murid tidak hanya mencocockkan gambar, tetapi juga berlatih untuk membuat keputusan. Ini adalah langkah penting menuju kemandirian mereka; (3)penyemangat kepercayaan diri dan partisipasi yang aktif, dampak yang paling mengesankan bagi saya adalah perubahan sikap belajar mereka.
Murid-murid yang sebelumnya lebih pasif kini tampil lebih berani, aktif dan percaya diri. Kegiatan komik “Cuaca Hari ini dan Iklim Negeri Kita” menyediakan ruang bagi mereka yang kurang mampu berbicara untuk tetap dapat “bercerita”. Mereka dapat mengungkapkan pemahaman mereka melaui ilustrasi sehingga merasa setara dengan teman yang lebih ekspresif.
“Galeri Mini” menjadi puncak dari peningkatan rasa percaya diri ketika karya mereka ditampilkan dan diapresiasi, saya melihat sinar kebanggaan di mata merka. Mereka tidak lagi merasa takut untuk melakukan keasalahan, sebaliknya mereka antusias untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari. Atmosfer di kelas menjadi lebih hidup karena setiap anak merasa dihargai dan berdaya untuk memberikan kontribusi.
PENUTUP
Secara keseluruhan saya bisa mengatakan bahwa penggunana komik sebagai media pembelajaran dalam mengajarkan konsep mengenai iklim dan cuaca telah sukse. dampak positifnya terlihat dari dua aspek yang penting yaitu murid tidak hanya dapat memahami konsep sebelumnya yaitu abstrak menjadi konkret namun mereka juga menunjukkan perubahan karakter yaitu kemandirian, kreativitas serta rasa percaya diri ketika menampilkan hasilnya dalam galeri mini. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa materi abstrak dapat mereka pahami ketika diubah menjadi sebuah media yang menarik dan menciptakan pengalaman yang sesuai dengan cara pandang mereka terhadap sesuatu yang abstrak.
Saya berharap bahwa praktik baik yang telah saya lakukan dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi guru untuk memberikan inovasi dalam melakukan pembelajaran di kelas dengan cara yang berbeda dan melibatkan semua murid berkebutuhan khusus yaitu di SLB Negeri Salatiga.
Media pembelajaran berupa komik bisa dilihat di IG saya: https://www.instagram.com/p/DbdfgItiZ2g/?img_index=1, sedangkan video praktik bisa dilihat di akun youtube : https://youtu.be/qurB0wBsgbs
DAFTAR PUSTAKA
Asyhar, R. (2011). Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada.
Atmaja, J.R.(2018). Pendidikan dan Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Awalia, H. R. (2016). Studi Deskriptif Kemampuan Interaksi Sosial Anak Tunagrahita Ringan. Jurnal Pendidikan Khusus, 1–16.
Ezzaim, A., Dahbi, A., Haidine, A., & Aqqal, A. (2023). AI-based adaptive learning: A systematic mapping of the literature. Journal of Universal Computer Science, 29(10), 1161.
Fri, C., & Elouahbi, R. (2021). Machine learning and deep learning applications in e-learning systems: A literature survey using topic modeling approach. In 2020 6th IEEE Congress on Information Science and Technology (CiSt) (pp. 267-273). IEEE
Kumar, L. A., Renuka, D. K., Rose, S. L., & Wartana, I. M. (2022). Deep learning based assistive technology on audio visual speech recognition for hearing impaired. International Journal of Cognitive Computing in Engineering, 3, 24-30
Kusumawati, N. M., & Ningsih, D. P. (2025). Implementation of Deep Learning in Education: Towards Mindful, Meaningful, and Joyful Learning Experiences. Journal of Deep Learning in Education, 3(1), 55–68.
Mustaghfirin, U. A., & Zaman, B. (2025). Tinjauan Pendekatan Pembelajaran Mendalam Kemdikdasmen Perspektif Pendidikan Islam. Journal of Instructional and Development Researches, 5(1), 75–85.
Nurul I, Iskandar S, Amalia M & Naziha P.S. (2025).Konsep Dan Implementasi Pendekatan Deep Learning Di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar.DOI: https://doi.org/10.23969/jp.v10i2.25562
Suryani, N., Setiawan, A., Putria, A. (2018). Media Pembelajaran Inovatif dan Pengembangannya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Leave a Reply